Sejarah Nama Jakarta dari Sunda Kelapa Hingga DKI dan DKJ

Sejarah Nama Jakarta dari Sunda Kelapa Hingga DKI dan DKJ

Sejarah nama Jakarta sebagai ibukota Indonesia saat ini yang akan segera diganti ke IKN baru ternyata cukup panjang. Sebagai tempat yang kaya akan sejarah, kota ini sudah mengalami sejumlah perubahan nama selama berabad-abad.

Perubahan nama ini mencerminkan evolusi kota ini dari sebuah pelabuhan kecil hingga menjadi ibukota negara Indonesia yang penting. Apalagi pada masa mendatang, nama serta statusnya direncanakan akan diubah menjadi DKJ (Daerah Khusus Jakarta).

Wacana tersebut muncul karena statusnya akan diubah setelah pusat pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Ibukota Nusantara IKN di Kalimantan Timur. Bahkan, pengumuman rencana perubahan status serta namanya ini sudah dibahas dalam rapat internal kabinet.

Rapat tersebut membahas mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) DKJ pada 12 September 2023 kemarin. Itu sebabnya, perbincangan terkait sejarah perubahan namanya dari masa ke masa semakin banyak diperbincangkan orang.

Sejarah Nama Jakarta dan Perubahan Statusnya

Sebelum menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, Jakarta bermula dari sebuah pelabuhan kecil yang terletak di estuari sungai Ciliwung bernama Sunda Kelapa. Hingga sekarang, wilayah ini sudah menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat ekonomi Indonesia.

Sejak bertahun-tahun sampai sekarang, wilayah kotanya sudah menghadapi berbagai tantangan, seperti masalah lalu lintas, banjir, dan pertumbuhan urban yang cepat. Untuk menambah wawasan Anda, berikut ini rincian sejarah lengkapnya.

  • Sunda Kelapa

    Pada abad ke 14, kawasan Sunda Kelapa masa itu adalah sebuah pelabuhan kecil yang berlokasi di estuari sungai Ciliwung. Sunda Kelapa adalah pusat pelabuhan kerajaan Padjadjaran pada masa itu.

    Pelabuhan tersebut melayani perdagangan lokal dan internasional, menjadi titik pertemuan pedagang dari berbagai belahan dunia. Itu sebabnya, tempat tersebut menjadi persinggahan banyak orang, termasuk penjajah kolonial.

  • Jayakarta

    Sejarah nama Jakarta selanjutnya ditandai dengan perubahan namanya dari Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Saat itu, Pangeran Fatahillah berhasil merebut kawasan Sunda Kelapa dari penjajah Portugis yang menguasainya.

    Sebagai tanda kemenangan, Pangeran Fatahillah mengganti nama kota ini menjadi Jayakarta. Itu sebabnya, setiap tanggal 22 Juni 1527 diperingati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kota bersejarah ini.

  • Batavia

    Pada abad ke-17, kawasan ini berada di bawah penguasaan Belanda, dan mereka mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Nama Batavia diambil dari nenek moyang bangsa Belanda, Batavieren.

    Di bawah pemerintahan Belanda, Batavia menjadi pusat perdagangan, administrasi kolonial, dan pusat pemerintahan Hindia

    Belanda di Asia Tenggara. Selama masa ini, kota ini mengalami perkembangan signifikan dalam hal infrastruktur, perdagangan, serta budaya.

  • Jakarta Tokubetsu Shi

    Sejarah nama Jakarta Tokubetsu Shi bermula pada pendudukan Jepang di Indonesia selama Perang Dunia II pada tahun 1942-1945. Selama masa ini, selain pergantian nama dari Batavia, kota ini juga mengalami perubahan besar dalam administrasi serta pemerintahan.

  • Jakarta

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, akhirnya tempat ini menjadi pusat politik dan pemerintahan Indonesia dengan nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta. Ini adalah awal dari perannya sebagai ibukota negara yang baru merdeka.

  • Praja Jakarta

    Pada tanggal 28 Maret 1950, sejarah nama Jakarta kembali berubah ketika pemerintah Republik Indonesia mengubah namanya menjadi Praja Jakarta. Perubahan ini mencerminkan semangat nasionalisme saat Indonesia berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya.

  • Kotamadya Djakarta Raya

    Pada tanggal 18 Januari 1958, kota ini diberi status sebagai daerah otonom dengan nama Kotamadya Djakarta Raya yang berada di bawah Provinsi Jawa Barat. Hal tersebut adalah langkah signifikan dalam pengembangan administratifnya.

  • Daerah Tingkat Satu

    Sejarah nama Jakarta selanjutnya adalah dari segi perubahan status menjadi Daerah Tingkat Satu (Provinsi) yang dipimpin oleh seorang Gubernur. Ini menandai kemandirian kotanya sebagai wilayah administratif yang lebih besar.

  • Daerah Khusus Ibukota

    Kemudian pada tahun 1961, wilayahnya kembali mengalami perubahan status menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI). Kemudian pada tanggal 31 Agustus 1964, status wilayahnya secara resmi ditetapkan menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

  • Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

    Pada tanggal 31 Agustus 1999, statusnya kembali diperbarui menjadi pemerintah provinsi. Perubahan dalam status ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1999 yang mengaturnya sebagai daerah otonomi yang memiliki kota administrasi.

  • DKI Jakarta

    Sejarah nama Jakarta yang terakhir hingga dikenal sebagai DKI Jakarta terjadi melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007. Undang-Undang tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai daerah otonomi khusus ibukota.

    Berbagai pergantian nama maupun status tersebut mencerminkan dinamika sejarah, politik, dan budaya yang telah terjadi selama berabad-abad. Apalagi kini, status maupun namanya kembali akan berubah menjadi DKJ (Daerah Khusus Jakarta) jika ibukota resmi berpindah.

    Perubahan mencerminkan upaya pemerintah untuk membagi beban administratif dengan lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, sejarah nama Jakarta dan perannya sebagai ibukota Indonesia di awal kemerdekaan akan selalu dikenang.

CATEGORIES
Share This